HeadlinePERISTIWA

Buntut Aksi Kasus Kematian Bayi, Minta Direktur RS Sultan Sulaiman dan Kadis Kominfo Sergai Dicopot

180
×

Buntut Aksi Kasus Kematian Bayi, Minta Direktur RS Sultan Sulaiman dan Kadis Kominfo Sergai Dicopot

Sebarkan artikel ini

SERGAI (STARMEDIA.id) – Kasus kematian bayi saat melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Sulaiman yang notabene milik Pemkab Serdang Bedagai (Sergai), menuai terjadinya aksi unjuk rasa.

Puluhan warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Sei Bamban gelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Serdang Bedagai (Sergai), Senin (15/9/2025) pagi jelang siang.

Motivasi Aksi damai ini dipicu adanya dugaan kelalaian medis,yang dilakukan oleh pihak di RSUD Sultan Sulaiman selaku rumah sakitilik pemerintah daerah, menyebabkan sejumlah pasien BPJS, termasuk seorang bayi, meninggal dunia.

Kordinator Aksi Yudi Napitupulu serta didampingi kuasa hukum pasien, Maruli Tua Saragi Saragi dalam orasinya menyebutkan,kalau aksi ini mereka menyuarakan aspirasi atas meninggal nya seorang bayi saat mau melahirkan di Rumkit Sultan Sulaiman,pada tanggal 6 September 2015 yang lalu.

Bayi yang dinyatakan meninggal saat dilahirkan,berasal dari pasangan Sudianto Siregar ( 33) dan Tonggoria br Tambunan (31) warga Desa Bakaran Batu,kecamatan Sei Bamban.

Berat dugaan dan fakta yang ada,kalau kematian bayi saat melahirkan sarat dengan kelalaian medis yang dilakukan oleh para Perawat dan Dokter di rumah sakit tersebut.
Aksi damai ini mendapat pengawalan ketat dari personel Satpol PP serta jajaran Polri Sergai, yang bertugas secara humanis.

Sebelum diterima oleh pejabat di Pemkab Sergai,Yudi Napitupulu selaku orator memaparkan kronologis kejadian yang mengakibatkan kekecewaan korban,hingga menyulut warga untuk melakukan aksi unjuk rasa.

” Kakak kami Tonggoria br Tambunan pada tanggal 6 September 2025 sekitar pukul 01.46 wib ya entah malam,dibawa ke rumah sakit Sultan Sulaiman karena mau melahirkan,dengan mempergunakan BPJS.”

“Tapi hanya dilihat saja tanpa ada perawatan lain,karena infonya dokter spesialis belum datang sementara kondisi kakak kami sudah sangat dekat mau melahirkan. Barulah keesokan harinya sekitar jam 10.00 wib,ada dokter spesialis yang menangani dan langsung dilakukan operasi Caesar”, ungkapnya.

Menurut kakak saya,tidak ada suara bayi menangis saat bayi dikeluarkan,apalagi setelah itu pihak rumah sakit menyatakan kalau bayi berkelamin laki-laki yang dilahirkan kakak kami dinyatakan sudah meninggal dunia.

Bagi kami orang Batak,nilai anak laki laki itu sangat mahal dan kehilangan bayi laki-laki dengan cara yang dilakukan oleh pihak Rumkit,jelas kami sangat kecewa apalagi sejak kejadian,tidak ada niat baik pihak rumah sakit untuk datang ketempat kami,bahkan Direktur RSUD Sultan Sulaiman yang bermarga Saragih dan nita bener Ipar atau Lae dari Bupati Sergai sulit untuk dikonfirmasi. Begitu juga dengan dr. Bulan Simanungkalit katanya selaku Pengawas,dan kami minta dokter yang terlibat dalam penanganan kasus ini untuk diperiksa dan kalau terbukti ada kelalaian,kami minta dipecat”,tegas Yudi Napitupulu.

Yudi juga menyampaikan Tuntutan aksi ini antara lain,Pecat Direktur RSUD Sultan Sulaiman,Pecat Kadis Kominfo Sergai,Usut tuntas kematian bayi pada 6 September 2025.Usut dugaan kelalaian prosedur medis di RSUD Sultan Sulaiman, adili tenaga medis yang terbukti lalai,Tindak pihak terkait yang menyebabkan kematian pasien.

Yudi juga menyatakan kalau Kadis Kominfo Sergai terlalu berambisi untuk melakukan klarifikasi kasus ini melalui media center,”kenapa bukan oknum Direktur RSUD Sultan Sulaiman A.S sendiri yang memberikan konfirmasi langsung,bahkan tidak mau menerima kami yang menemuinya. ??. Ini soal kelalaian medis loh,bukan cakap-cakap atau salah tulis. Kan ada Humas Rumkit, kemana Humas ya???”,ungkap orator.

Yudi Napitupulu menegaskan bahwa pihaknya memberi tenggat 7 x 24 jam kepada Bupati untuk memenuhi tuntutan. Jika tidak diindahkan, massa berjanji akan kembali dengan jumlah lebih besar, bahkan siap membawa aspirasi langsung ke Gubernur Sumut.

Disela-sela orasi, Kasat Pol-PP Sergai Wahyudi yang menerima pendemo dipintu masuk kantor Bupati menyampai kan,kalau Bupati Sergai Darma Wijaya dan Wakil Bupati (Wabup) Adlin Tambunan lagi menerima kunjungan Menteri dari Jakarta di Sei Bamban.

Bupati Darma Wijaya yang akan ke lapangan Sei Bamban, spontan berhenti didepan gerbang kantor Bupati untukenerika perwakilan penguras,dan meminta 10 perwakilan kedalam kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasinya.

“Karena kalau diluar,jalan bisa macat dan mengganggu pengguna jalan yang melintas”,kata Bupati.
Selepas diterima Bupati Darma Wijaya sekitar 30 menit,Maruli Tua Saragi didampingi Yudi Napitupulu dan Sudianto Siregar (orangtua si bayi yang meninggal mengatakan),

Maruli Tua Saragih selaku kuasa hukum keluarga korban usia bertemu Bupati menyampaikan bahwa peristiwa tragis pada 6 September 2025 menjadi bukti buruknya pelayanan di RSUD Sultan Sulaiman. Pasien datang dengan kondisi kontraksi pukul 01.30 WIB, namun dokter baru menangani sekitar pukul 10.00 WIB. Akibat keterlambatan tersebut, bayi lahir dalam kondisi tidak bernyawa.

β€œIni jelas kelalaian! Pernyataan pihak RS yang menyebut sudah sesuai SOP sangat keliru. Faktanya, tidak ada dokter ketika pasien berteriak kesakitan. Kami minta reformasi total di bidang kesehatan Sergai,” tegas Maruli.

Dalam mediasi itu kata Maruli Tua bahwa, Bupati Sergai Darma Wijaya berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut.

Ia menyatakan siap mengambil tindakan tegas, termasuk pemeriksaan dan pencopotan oknum yang terbukti lalai,tegas Maruli Tua.

Terpisah,Sudianto Siregar usia bertemu Bupati Darma Wijaya ketika di wawancarai media mengatakan,”kami sudah sampaikan kepada Bupati bahwa hingga detik ini tidak ada niat baik pihak Rumah sakit untuk melakukan konfirmasi,bahkan menemui keluarga kami.

Pihak rumah sakit cuek dan arogan serta menganggap sudah sesuai SOP,biarlah nanti hukum yang menentu kan karena kasus ini akan kami lanjutkan ketingkat atas. Sebagai orang Batak, saya sangat kehilangan anak penerus marga kami”,kata Sudianto. (biet )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *