EKONOMIHeadline

Pengamat Ekonomi : Harga Cabai Sempat Naik, Sejauh Mana Peran Spekulan Memainkan Harga?

2608
×

Pengamat Ekonomi : Harga Cabai Sempat Naik, Sejauh Mana Peran Spekulan Memainkan Harga?

Sebarkan artikel ini

MEDAN (STARMEDIA.id) – Harga cabai merah yang kemarin sempat naik dan menyentuh 100 ribu per Kg, tentunya memicu pertanyaan ada apa dibalik kenaikan harga tersebut. Mungkinkah karena mekanisme pasarnya yang demikian, atau justru ada permainan spekulan. Misalkan jika ada spekulan yang memang benar memainkan harga cabai merah hingga setinggi itu, papar Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara di Medan, Kamis (30/10) sore.

Maka lanjutnya spekulan tentunya harus memiliki ruang pendingin untuk menjaga agar cabai tetap dalam kondisi segar. Karena kalau tidak cabai akan mudah busuk, mengalami penyusutan dan akan dijual dengan harga yang lebih murah tentunya. Karena cabai ini barang yang tidak mampu bertahan lama. Normalnya cabai milik pedagang hanya mampu bertahan 2 hari mempertahankan kesegarannya.kesegarannya, katanya.

Gunawan menambahkan, Karena kalau sudah lewat dua hari harga cenderung bisa lebih murah hingga 15 ribu per Kg di level pengecer. Seperti halnya cabai kardus yang memang selalu lebih murah harganya dibandingkan cabai segar dari kabupaten karo dan sekitarnya. Dan tentunya di pasar induk lau chi atau di pasar lainnya di sumatera utara tidak ada pedagang yang memiliki ruang pendingin seperti cold storage untuk menumpuk persediaan atau supply, ujarnya.

Kecuali untuk pedagang ritel modern, yang memang menjaga kesegaran barang dagangannya dengan mengatur suhu ruangan. Dari hasil pengamatan langsung, banyak pedagang di pasar tradisional yang memiliki stok cabai itu lebih dipicu oleh pasokan yang tidak habis terjual. Jumlahnya tidak banyak, karena lebih menguntungkan buat pedagang dengan mengobral harga dihari yang sama, dibandingkan menyimpan barang untuk dijual besok dengan penurunan kualitas barang dan ketidakpastian harga.harga, tambah Gunawan.

Jadi ruang untuk berspekulasi sebenarnya nyaris tidak ada bagi pedagang di pasar tradisional. Pedagang umumnya juga tidak memiliki proyeksi berapa harga cabai kedepan. Bahkan tidak sedikit pedagang yang harus merugi karena kalah harus bersaing harga dengan pedagang lainnya. Spekulan sulit untuk bertahan disaat barang dagangannya adalah barang yang cepat busuk.

Kecuali pedagang tersebut dilengkapi dengan invetasi besar pada mesin pendingin, penguasaan lahan pertanian yang signifikan,memonopoli rantai pasok, hingga menjadi pemran utama yang menentukan HPP (harga pokok produksi) seperti menguasai distribusi pupuk pestisida dan yang lainnya. Dan saya tidak menemukan model pedagang cabai konglomerasi seperti ituitu, pungkasnya. (Abi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *