MEDAN (STARMEDIA.ID) –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergejolak dalam sepekan terakhir. Setelah sempat menembus level 8.100-an, IHSG berbalik arah dan menutup perdagangan di posisi 7.915,66 poin. Koreksi sekitar dua setengah persen ini menandai berakhirnya fase penguatan jangka pendek yang telah berlangsung sejak awal Oktober.
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, Pintor Nasution, menegaskan bahwa fenomena ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Ia menyebut, aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan sebagian investor justru merupakan bagian dari dinamika pasar yang sehat.
“Profit taking adalah hal yang wajar dan justru menunjukkan bahwa pasar kita bergerak secara rasional. Investor yang sudah memperoleh keuntungan melakukan realisasi, dan itu menjadi bagian dari siklus alami pasar saham,” ujar Pintor, Kamis (30/10).
Menurutnya, penurunan indeks dalam jangka pendek tidak selalu berarti pasar sedang melemah secara fundamental. Justru, koreksi yang terjadi setelah kenaikan signifikan dapat membantu menjaga keseimbangan antara harga dan nilai wajar saham.
“Pasar yang selalu naik tanpa jeda justru berisiko menimbulkan bubble. Jadi, ketika IHSG terkoreksi setelah menembus rekor, itu tanda pasar sedang menyesuaikan diri,” jelasnya.
Fenomena profit taking biasanya muncul setelah periode optimisme yang tinggi, misalnya saat rilis data ekonomi positif atau laporan keuangan emiten yang kuat. Ketika harga saham naik signifikan, investor berpengalaman mulai berhitung dan memilih mengunci keuntungan.
Angel dari BEI Sumut menambahkan, investor pemula perlu memahami bahwa koreksi tidak selalu buruk. Ia menyarankan agar investor melihat momentum penurunan harga sebagai peluang untuk menambah portofolio, asalkan fundamental emiten masih baik.
“Kalau kinerja perusahaan tetap bagus, koreksi bisa menjadi kesempatan untuk membeli di harga lebih rendah. Kuncinya adalah tenang dan disiplin dengan strategi investasi masing-masing,” ujarnya.
BEI Sumut juga mengingatkan pentingnya menetapkan target keuntungan dan batas risiko sejak awal berinvestasi. Banyak investor fokus pada kapan harus membeli, namun lupa menentukan waktu menjual yang tepat. Padahal, keduanya sama penting.
“Disiplin adalah kunci. Menjual pada waktu yang tepat sama pentingnya dengan membeli di harga terbaik,” tegas Pintor.
Ia menilai, pasar saham Indonesia saat ini justru menunjukkan kedewasaan yang semakin meningkat. Fluktuasi yang terjadi menandakan bahwa mekanisme pasar berjalan sebagaimana mestinya, dengan investor yang semakin sadar risiko dan potensi.
“Jangan panik ketika indeks terkoreksi. Pasar sedang mengambil napas untuk bergerak lebih sehat. Setelah setiap aksi profit taking, selalu ada peluang baru yang bisa dimanfaatkan,” tutupnya. (RED)












