MEDAN (HARIANSTAR.COM) – PT PLN (Persero) Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sumatera terus mendorong perempuan memiliki ruang yang sama dalam mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Salah satunya melalui program Barista Training for Women yang memberikan pembekalan keterampilan barista bagi para Srikandi peserta program.
Sebanyak sembilan peserta Srikandi mengikuti pelatihan tersebut. Lima di antaranya merupakan Srikandi penyintas difabel daksa. Hal ini menjadi bentuk keberpihakan PLN dalam memberikan peluang yang sama dan setara bagi setiap peserta untuk mendapatkan keterampilan, mengembangkan potensi diri, serta memiliki kesempatan yang lebih luas untuk berdaya secara ekonomi.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai dasar-dasar profesi barista, mulai dari pengenalan bahan dan peralatan, teknik pengolahan minuman, hingga praktik yang berkaitan dengan pekerjaan barista. Pembelajaran dilakukan secara bertahap agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa menerapkan keterampilan yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
SRM KKU PT PLN (Persero) UIP3B Sumatera, Yenti Elvina, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya PLN memberikan ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal dalam berkarya dan bekerja.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang bagi perempuan untuk mendapatkan keterampilan baru yang dapat menjadi bekal untuk berkembang dan berkarya. Kami percaya ketika perempuan saling mendukung dan diberikan kesempatan, akan semakin banyak potensi yang dapat dikembangkan,” ujar Yenti.
Menurut Yenti, keterlibatan peserta penyintas difabel daksa menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. PLN ingin memastikan kesempatan untuk mendapatkan pelatihan dan mengembangkan keterampilan dapat diakses secara lebih luas.
“Lima peserta difabel daksa yang ikut dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk belajar dan berkembang bisa diberikan kepada siapa saja. Kami berharap mereka dapat mengikuti seluruh proses dengan baik dan nantinya memiliki kepercayaan diri untuk menggunakan keterampilan yang sudah diperoleh,” katanya.
Yenti menambahkan, keterampilan yang diberikan tidak berhenti pada proses pelatihan. Peserta juga diarahkan untuk memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja melalui proses pembelajaran dan penguatan kompetensi.
“Kami ingin apa yang dipelajari selama pelatihan benar-benar bisa menjadi bekal. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang barista, tetapi juga dipersiapkan untuk mengikuti uji kompetensi sehingga kemampuan yang dimiliki dapat semakin terarah,” ujar Yenti.
Sementara itu, Kepala PWK Baitulmaal Muamalat (BMM) Sumut, Budi Syahputra, mengatakan keterampilan barista dapat menjadi salah satu pintu bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman sekaligus membuka akses terhadap peluang kerja.
“Program ini diharapkan dapat memberikan peluang penyerapan tenaga kerja bagi peserta, baik difabel maupun nondifabel. Ada sembilan peserta yang mengikuti kegiatan ini, terdiri dari lima peserta difabel daksa dan empat peserta nondifabel,” kata Budi.
Menurut Budi, proses pembelajaran juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal pekerjaan barista secara lebih dekat. Hal tersebut penting agar peserta tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memahami tanggung jawab yang dibutuhkan ketika masuk ke lingkungan kerja.
“Yang kami dorong bukan hanya kemampuan membuat minuman, tetapi bagaimana peserta memahami proses kerja secara keseluruhan. Ada kedisiplinan, kebersihan, komunikasi, pelayanan, dan tanggung jawab yang juga harus mereka pahami,” ujarnya.
Budi berharap keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan peserta setelah program selesai, baik untuk mencari pekerjaan maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
“Harapannya setelah pelatihan ini ada langkah berikutnya. Peserta bisa membawa keterampilan yang sudah diperoleh untuk mencari peluang kerja atau mengembangkannya menjadi sesuatu yang produktif. Jadi, manfaatnya tidak berhenti ketika pelatihan selesai,” kata Budi.
Program Barista Training for Women ini turut bekerja sama dengan lembaga sertifikasi profesi. Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan, sembilan Srikandi calon barista akan mengikuti uji kompetensi barista dengan skema Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bagian dari proses pengakuan atas kompetensi yang telah dipelajari.






